“ Rendahnya Mutu Pendidikan sebagai
Akibat Permasalahan Pendidikan yang Kompleks”
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Memasuki era globalisasi, sumber daya manusia adalah hal yang sangat penting untuk diperhitungkan. Bagaimana tidak, untuk bersaing dengan negara atau bangsa lain yang dibutuhkan sekarang adalah pemikiran yang sangat canggih dan hebat. Perang pemikiran dalam “memperebutkan” dunia akan berjalan terus menerus.
Untuk melahirkan sumber daya manusia yang hebat tersebut hal yang sangat berperan adalah pendidikan. Pendidikan merupakan hal penopang untuk menunjang sumber daya manusia dalam pembangunan bangsa. Pendidikan adalah faktor fundamental yang akan menentukan kualitas sumber daya manusia. Jika suatu pendidikan memiliki kualitas yang tinggi, maka sumber daya manusi yang dihasilkan juga akan berkualitas tinggi. Mutu pendidikan yang tinggi akan melahirkan sumber daya manusia yang tinggi juga.
Bagaimana dengan kualitas / mutu pendidikan di Indonesia ? Memasuki abad millennium yang sarat dengan teknologi dengan segala kecanggihannya, mutu pendidikan di Indonesia memang dinilai masih rendah atau belum seimbang dengan tuntutan untuk mengikuti kemajuan zaman. Ironis memang, tapi inilah kenyataan yang ada di depan mata. Hal ini kita peroleh setelah kita membandingkan dengan negara-negara lain. Mutu pendidikan di Indonesia masih jauh tertinggal di belakang.
Fakta mengenai hal tersebut adalah sebagai berikut :
Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999).
Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Dan masih menurut survai dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia.
Apakah penyebab dinilai rendahnya mutu pendidikan tersebut ? Pada makalah ini akan dibahas secara umum tentang kompleksitas masalah pendidikan yang tidak tertangani sehingga berakibat pada rendahnya mutu pendidikan.
B. Batasan Masalah
Pada makalah ini akan dibahas tentang :
1. Faktor-faktor penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia dan keterkaitannya
2. Solusi permasalahan pendidikan yang menyebabkan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Mengetahui bagaimana posisi pendidikan Indonesia saat ini
2. Mengetahui faktor penyebab rendahnya mutu pendidikan
3. Menyadari pentingnya peran pendidikan dalam pembangunan bangsa
4. Mengetahui solusi pemecahan permasalah pendidikannya dan menerapkannya
BAB II
PEMBAHASAN
A. Faktor Penyebab Rendahnya Mutu Pendidikan di Indonesia
Rendahnya mutu pendidikan merupakan salah satu masalah serius yang harus ditangani. Pendidikan adalah hal penting dalam pembangun dan kemajuan bangsa dan negara. Tapi di zaman yang menuntut tingginya wawasan dan kualitas sumber daya manusia ini, justru mutu pendidikan di Indonesia di nilai masih rendah dan jauh tertinggal jika dibandingkan negara-negara lainnya. Mengapa hal ini terjadi ? Faktor apakah yang menyebabkannya ?
Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan di Indonesia, dan kompleksitas permasalahan pendidikan yang tidak tertangani ini akan menyebabkan mutu pendidikan akan terus teringgal. Secara umum permasalahan tersebut dapat dilihat sebagai berikut :
1. Dari segi kurikulum
Dalam hal ini kita mengetahui bagaimana kurikulum pendidikan di Indonesia. Perubahan dan pergantian dari satu kurikulum ke kurikulum lain terus terjadi dalam waktu yang singkat. Peserta didik seakan menjadi alat coba suatu kurikulum tanpa hasil maksimal. Sehingga pendidikan yang berjalan tidak efektif dan berjalan optimal karena sering terjadinya perubahan kurikulum dengan segala penerapannya. Hal yang terjadi di lapangan, gembar-gembor kurikulum baru, katanya lebih baik, lebih tepat sasaran. Yang jelas, menteri pendidikan berusaha eksis dalam mengujicobakan formula pendidikan baru dengan mengubah kurikulum. Perubahan kurikulum yang terus-menerus, pada prateknya kita tidak tau apa maksudnya dan yang beda hanya bukunya.
Pemerintah sendiri seakan tutup mata, bahwa dalam prakteknya Guru di Indonesia yang layak mengajar hanya 60% dan sisanya masih perlu pembenahan. Hal ini terjadi karena pemerintah menginkan hasil yang baik tapi lupa dengan elemen-elemen dasar dalam pendidikan. Contohnya guru, banyak guru honorer yang masih susah payah mencukupi kebutuhannya sendiri. Kegagalan dalam kurikulum kita juga disebabkan oleh kurangnya pelatihan skill, kurangnya sosialisasi dan pembinaan terhadap kurikulum baru. Elemen dasar ini lah yang menentukan keberhasilan pendidikan yang kita tempuh. Menurut slogan jawa, guru itu digugu dan ditiru, tapi fakta yang ada, banyak masyarakat yang memandang rendah terhadap profesi guru, padahal tanpa guru kita tidak akan bisa menjadi seperti sekarang ini.
2. Dari segi biaya pendidikan
Akhir-akhir ini biaya pendidikan semakin mahal, seperti mengalami kenaikan BBM. Banyak masyarakat yang memiliki persepsi pendidikan itu mahal dan lebih parahnya banyak pula pejabat pendidikan yang ngomong, kalau pengen pendidikan yang berkualitas konsekuensinya harus membayar mahal. Pendidikan sekarang ini seperti diperjual-belikan bagi kalangan kapitalis pendidikan dan pemerintah sendiri seolah membiarkan saja dan lepas tangan. Sekarang ini memang digalakan program wajib belajar 9 tahun dengan bantuan Bos. Tapi bagaimana dengan daerah-daerah yang terpencil nan jauh disana?? Apa mereka sudah mengenyam pendidikan?? Padahal mereka sebagai WNI berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Akhir-akhir ini pemerintah dalam system pendidikan yang baru akan membagi pendidikan menjadi dua jalur besar, yaitu jalur formal standar dan jalur formal mandiri. Pembagian jalur ini berdasarkan perbedaan kemampuan akademik dan finansial siswa. Jalur formal mandiri diperuntukkan bagi siswa yang mapan secara akademik maupun finansial. Sedangkan jalur formal standar diperuntukkan bagi siswa yang secara finansial bisa dikatakan kurang bahkan tidak mampu. Hal ini saya rasa sangat konyol, bukankah kebijakan ini sama saja dengan mengotak-kotakan pendidikan kita, mau dikemanakan pendidikan kita bila kita terus diam dan pasrah menerima keputusan Pemerintah?? Ironis sekali bila kebijakan ini benar-benar terjadi.
3. Tujuan pendidikan
Katanya pendidikan itu mencerdaskan, tapi kenyataannya pendidikan itu menyesatkan. Bagaiamana tidak? Lihat saja kualitas pendidikan kita hanya diukur dari ijazah yang kita dapat. Padahal sekarang ini banyak ijazah yang dijual dengan mudahnya dan banyak pula yang membelinya (baik dari masyarakat ataupun pejabat-pejabat). Bukankah ini memalukan?? Berarti kalau kita punya uang maka kita tidak usah sekolah tapi sama dengan yang sekolah karena memiliki ijasah. Harusnya pendidikan itu menciptakan siswa yang memiliki daya nalar yang tinggi, memiliki analisis tentang apa yang terjadi sehingga bila di terjunkan dalam suatu permasalahan dapat mengambil suatu keputusan.
4. Efektifitas, efisinsi dan standardisasi pendidikan
Pendidikan yang efektif adalah suatu pendidikan yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian, pendidik (dosen, guru, instruktur, dan trainer) dituntut untuk dapat meningkatkan keefektifan pembelajaran agar pembelajaran tersebut dapat berguna.
Efektifitas pendidikan di Indonesia sangat rendah. Setelah praktisi pendidikan melakukan penelitian dan survey ke lapangan, salah satu penyebabnya adalah tidak adanya tujuan pendidikan yang jelas sebelm kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Hal ini menyebabkan peserta didik dan pendidik tidak tahu “goal” apa yang akan dihasilkan sehingga tidak mempunyai gambaran yang jelas dalam proses pendidikan. Jelas hal ini merupakan masalah terpenting jika kita menginginkan efektifitas pengajaran. Bagaimana mungkin tujuan akan tercapai jika kita tidak tahu apa tujuan kita.
Efisien adalah bagaimana menghasilkan efektifitas dari suatu tujuan dengan proses yang lebih ‘murah’. Dalam proses pendidikan akan jauh lebih baik jika kita memperhitungkan untuk memperoleh hasil yang baik tanpa melupakan proses yang baik pula. Hal-hal itu jugalah yang kurang jika kita lihat pendidikan di Indonesia. Kita kurang mempertimbangkan prosesnya, hanya bagaiman dapat meraih stendar hasil yang telah disepakati.
Beberapa masalah efisiensi pengajaran di dindonesia adalah mahalnya biaya pendidikan, waktu yang digunakan dalam proses pendidikan, mutu pegajar dan banyak hal lain yang menyebabkan kurang efisiennya proses pendidikan di Indonesia. Yang juga berpengaruh dalam peningkatan sumber daya manusia Indonesia yang lebih baik.
Jika kita ingin meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, kita juga berbicara tentang standardisasi pengajaran yang kita ambil. Tentunya setelah melewati proses untuk menentukan standar yang akan diambil.
Dunia pendidikan terus berudah. Kompetensi yang dibutuhka oleh masyarakat terus-menertus berunah apalagi di dalam dunia terbuka yaitu di dalam dunia modern dalam ere globalisasi. Kompetendi-kompetensi yang harus dimiliki oleh seseorang dalam lembaga pendidikan haruslah memenuhi standar.
Seperti yang kita lihat sekarang ini, standar dan kompetensi dalam pendidikan formal maupun informal terlihat hanya keranjingan terhadap standar dan kompetensi. Kualitas pendidikan diukur oleh standard an kompetensi di dalam berbagai versi, demikian pula sehingga dibentuk badan-badan baru untuk melaksanakan standardisasi dan kompetensi tersebut seperti Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP)
5. Rendahnya Kualitas Sarana Fisik
Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.
6. Rendahnya kualitas dan kesejahteraan guru
Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasny. Bukan itu saja, sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar. Kelayakan mengajar itu jelas berhubungan dengan tingkat pendidikan guru itu sendiri. Data Balitbang Depdiknas (1998) menunjukkan dari sekitar 1,2 juta guru SD/MI hanya 13,8% yang berpendidikan diploma D2-Kependidikan ke atas. Selain itu, dari sekitar 680.000 guru SLTP/MTs baru 38,8% yang berpendidikan diploma D3-Kependidikan ke atas. Di tingkat sekolah menengah, dari 337.503 guru, baru 57,8% yang memiliki pendidikan S1 ke atas. Di tingkat pendidikan tinggi, dari 181.544 dosen, baru 18,86% yang berpendidikan S2 ke atas (3,48% berpendidikan S3). Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya Hal ini juga dipicu dengan rendahnya tingkat kesejahteraan guru.
7. Kurangnya pemerataan kesempatan pendidikan
Sementara itu layanan pendidikan usia dini masih sangat terbatas. Kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan menghambat pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut.
B. Saling Keterkaitan Permasalahan Pendidikan
Permasalahan pendidikan di atas merupakan faktor yang memiliki keterkaitan. Contohnya saja faktor kurangnya keprofesionalan guru sebagai tenaga pendidik. Hal ini secara tidak langsung disebabkan oleh rendahnya kesejahteraan guru. Masyarakat terlanjur memandang sebelah mata profesi sebagai pendidik. Padahal tanpa guru yang berperan sebagai pengajar dan pendidik manusia tidak akan mengenal pengetahuan secara luas.
Begitu juga dengan faktor-faktor lain. Kurangnya pemerataan pendidikan, biaya pendidikan yang mahal, dan sarana dan fasilitas yang tidak maksimal.
Keseluruhannya membentuk masalah yang kompleks dan butuh penangan yang sungguh-sungguh. Jika terus dibiarkan kualitas pendidikan di Indonesia hanya akan seperti ini terus tanpa ada perubahan yang pasti.
C. Solusi Permasalahan Pendidikan
Dari masalah kompleks yang telah di uraikan di atas, sepertinya penanganan suatu masalah harus sunggug-sungguh dan bertitik tolak pada suatu masalah dalam priode waktu yang tertentu juga. Sehingga penanganan permasalahan tersebut terasa maksimal dan secara perlahan kita telah memperbaiki kualitas / mutu pendidikan secara tidak langsung. Memang butuh waktu, tapi itulah konsekuensinya.
Untuk mengatasi masalah-masalah cabang di atas, secara garis besar ada dua solusi yaitu:
Pertama, solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem ekonomi kapitalisme (mazhab neoliberalisme), yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan pendidikan.
Maka, solusi untuk masalah-masalah cabang yang ada, khususnya yang menyangkut perihal pembiayaan –seperti rendahnya sarana fisik, kesejahteraan gutu, dan mahalnya biaya pendidikan– berarti menuntut juga perubahan sistem ekonomi yang ada. Akan sangat kurang efektif kita menerapkan sistem pendidikan Islam dalam atmosfer sistem ekonomi kapitalis yang kejam. Maka sistem kapitalisme saat ini wajib dihentikan dan diganti dengan sistem ekonomi Islam yang menggariskan bahwa pemerintah-lah yang akan menanggung segala pembiayaan pendidikan negara.
Kedua, solusi teknis, yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang berkait langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan masalah kualitas guru dan prestasi siswa.
Maka, solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Rendahnya kualitas guru, misalnya, di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Rendahnya prestasi siswa, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan, dan sebagainya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pendidikan merupakan hal yang penting dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia serta kemajuan dan pembangunan bangsa dan negara. Pendidikan di Indonesia pada saat ini dinilai masih rendah jika dibandingkan dengan negara lainnya.
Rendahnya mutu pendidikan di Indonesia disebab oleh kompleksnya masalah pendidikan dan sulitnya dalam penanganan masalas-masalah tersebut.
Solusi untuk masalah tersebut adalah penanganan yang focus dan sungguh-sungguh pada setiap bidang tersebut.
B. Saran
Untuk meningkatkan kemajuan bangsa dan negara serta pembangunannya, Indonesia harus memiliki kualitas sumber daya manusia yang tinggi. Untuk menghasilkan sumber daya manusia yang ahli langkah awalnya adalah dengan memperbaiki system pendidikannya dan menangani permasalahan pendidikan secara optimal dan maksimal.
Kita harus terus berusaha agar mutu / kualitas pendidikan di Indonesia terus meningkat sehingga sumber daya manusia dapat bersaing di dunia yang sarat denagn teknologi yang menuntut ilmu pengetahuan yang canggih.
DAFTAR PUSTAKA
Tim Pembina Mata Kuliah Pengantar Pendiddikan.2006. Bahan Ajar Pengantar Pendidikan. Padang : FIP UNP
Internet : www.google.com
Tag : Masalah pendidikan di Indonesia
Kurikulum pendidikan Indonesia
Biaya pendidikan di Indonesia
Read More..
Home » Archives for Juni 2010
Kamis, 10 Juni 2010
Langganan:
Komentar (Atom)