Terlepas dari manfaat-manfaat tersebut, e-learning memiliki tingkat putus sekolah yang lebih tinggi dibandingkan pengajaran yang disampaikan secara tradisional. Khususnya di negara-negara berkembang, penggunaan e-learning memiliki tantangan yang unik dibandingkan negara-negara maju. Kendala dalam infrastruktur, sumber daya, akses informasi, karakteristik pribadi, dukungan dari institusi, teknologi dan konektivitas, desain pembelajaran dan kepercayaan diri terhadap teknologi menjadi hambatan dalam implementasi elearning. Integrasi teknologi dalam pendidikan di negara-negara berkembang masih tertinggal karena masalah budaya, politik, dan ekonomi. Tujuan e-learning di negara-negara berkembang adalah untuk memberikan pendidikan dasar kepada sejumlah besar siswa miskin. Hal ini sangat berbeda dengan tujuan e-learning di negara-negara maju, yang bertujuan untuk mengembangkan ekonomi pengetahuan yang efektif dan meningkatkan pendidikan seumur hidup. Meskipun ada tantangan-tantangan ini, peluang masih ada untuk meningkatkan efektivitas dan keberhasilan e-learning.
Penelitian ini fokus untuk mengklasifikasikan dan memprioritaskan faktor-faktor penentu keberhasilan (CSF) untuk implementasi e-learning di negara-negara berkembang ditinjau dari perspektif dua stakeholder yaitunya ahli TIK dan pengajar. Enam dimensi dalam CFS ini adalah karakteristik peserta didik, karakteristik instruktur, kualitas institusi dan layanan, kualitas infrastruktur dan sistem, kualitas kursus dan informasi, dan motivasi ekstrinsik. Karakteristik peserta didik adalah dimensi yang paling penting menurut pendapat para ahli TIK. Sementara menurut pendapat pengajar kualitas infrastruktur dan sistem merupakan dimensi yang paling penting.
Hasil penelitian juga mengungkapkan setidaknya terdapat 20 faktor penting bagi keberhasilan e-learning di negara-negara berkembang baik dari sudut pandang pakar TIK ataupun perspektif pengajar fakultas. Lima faktor penting teratas menurut pakar TIK adalah pelatihan komputer, persepsi kegunaan, sikap terhadap e-learning, efikasi diri, dan fleksibilitas program. Sementara dari perspektif fakultas lima faktor yang paling penting adalah kegunaan yang dirasakan, sikap terhadap e-learning, fleksibilitas program, arah yang jelas, dan kualitas kursus/pembelajaran.
Postingan di atas merupakan Ringkasan Artikel Critical success factors for e-learning in developing countries: A comparative analysis between ICT experts and faculty oleh Wannasiri Bhuasiri dkk 2012

0 komentar:
Posting Komentar